download please

Posts

  • May 01, 07:05 AM

    Sindiran dan Ejekan yang Terlalu Telanjang

    Perfilman Indonesia — apa boleh buat — masih selalu membutuhkan Deddy Mizwar buat mendekatkan film dengan kenyataan sehari-hari. Dan itu berarti: dengan penontonnya. Setidaknya, Deddy-lah yang selama ini paling konsisten menjadikan film-filmnya sebagai refleksi berbagai persoalan faktual masyarakat. Sesuatu yang belakangan semakin hilang atau dilupakan hingga semakin menjauhkan film Indonesia dari penontonnya. Setelah mempertanyakan nasionalisme [...]


  • April 28, 11:50 AM

    Sebuah Rumah di Dunia yang Bising

    Oke. Jadi sekarang blog ini genap berusia enam tahun. Blognya mungkin masih sama, alias begini-begini saja, paling juga sedikit bersolek mengikuti perkembangan teknologi dan cita rasa, namun konteks yang melingkupinya hari ini sudah jauh berbeda dengan enam tahun lalu. Hari ini internet telah bermetamorfosis sedemikian rupa menjadi sangat sosialis. Agak mengejutkan, memang, mengingat, meski terbangun [...]


  • April 18, 02:28 PM

    Penghormatan untuk Kegairahan Ngeblog

    blogombal dinobatkan sebagai Best Indonesian Weblog dalam kompetisi blog The BOBs, yang diadakan di Berlin, Jerman, sejak 2004. Kita mesti bersyukur ersyukur, karena setelah mendapat begitu banyak pengakuan dari pelbagai pihak sekaligus pembuktian kuantitatif (popularitas tinggi, jumlah pengunjung bejibun, banyak ditautkan, dll.), harus ada apresiasi otoritatif yang menegaskan bahwa secara kualitatif blog milik Antyo Rentjoko, [...]


  • April 15, 11:05 AM

    Perebutan Hak dan Pertempuran Simbol

    Tanjung Priok membara — dan berdarah — lagi. Sekarang terjadi di kawasan Koja, sisi paling utara Jakarta. Kali ini massa bentrok dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemprov DKI Jakarta dan kemudian juga polisi. Karena situasi belum bisa dikendalikan oleh otoritas keamanan, sampai Kamis dini hari saat saya mulai menulis posting ini jumlah [...]


  • April 06, 10:29 AM

    Blog pun Perlu Ikut-ikutan Mobile

    Blog — sebelumnya ada forum dan milis — juga sebuah social media. Tapi banyak orang, termasuk media, seringkali hanya teringat pada platform-platform instan seperti Facebook, Twitter, YouTube, Flickr, MySpace, Plurk, Koprol, dan sebagainya setiap kali menyinggung social media. Muasalnya bisa jadi karena faktor populasi. Pemilik blog pastilah tidak sebanyak pengguna social media instan. Bagaimanapun, membuat [...]


  • April 06, 12:01 AM

    Serasa Berlibur di Rumah Nenek

    Mendapat kesempatan mampir atau berkunjung ke Malang selalu menyenangkan. Kota sejuk di lereng Gunung Kawi itu buat saya merupakan salah satu kota tercantik di Indonesia. Dalam sejarahnya, sejak zaman baheula, Malang, yang cuma berjarak 90 kilometer dari Surabaya, dikenal sebagai tempat peristirahatan para “kumpeni” alias orang-orang Belanda. Tak mengherankan jika sampai sekarang masih terdapat banyak [...]


  • April 02, 11:54 AM

    Tidak Mudah Menggulingkan Nurdin

    Kongres Sepakbola Nasional (KSN), yang digelar di  di Malang, 30-31 Maret 2010, dengan optimisme membuncah buat melengserkan Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dan menata ulang infrastruktur persepakbolaan nasional, berakhir antiklimaks. Perhelatan yang menghabiskan Rp 3 miliar dan membuat kota Malang yang biasanya adem ayem mendadak macet (akibat kehadiran rombongan Presiden SBY) sekaligus sibuk (polisi berseliweran dan berjaga [...]


  • April 01, 11:52 AM

    Gayus Sudah Dibekuk, Bu, Lalu?

    Topik paling hangat hari-hari ini tentu saja kabar penyerahan diri Gayus Halomoan Tambunan, pegawai Ditjen Pajak berusia 30 yang diduga terlibat makelar kasus (markus) pajak karena di rekening banknya terdapat uang Rp 25 miliar. Kalau cuma perkara menangkap koruptor sekroco Gayus (saya lebih percaya uang Rp 25 miliar itu jatah “pihak lain” yang cuma numpang lewat, sementara [...]


  • March 29, 12:12 AM

    Earth Hour: Eksperimen Revolusi Individu

    Seperti tahun lalu, kabarnya Jakarta belum gulita betul saat pelaksanaan Earth Hour 2010, Sabtu, 27 Maret, pukul 20.20-21.30. Saya sendiri kali ini bergelap-gelapan di rumah saja bersama Okto. Sebetulnya malam itu ada resepsi pernikahan saudara sepupu di Jakarta, tapi khawatir merasa bersalah (karena lebih dari satu miliar penduduk bumi mematikan lampu) saya memilih pulang usai [...]


  • January 02, 05:35 AM

    Surat buat Djenar Maesa Ayu

    Dear Monyet, Selamat natal dan tahun baru 2010! Ini mungkin bakal jadi tahun yang tidak mudah buat kamu, terutama setelah Mereka Bilang, Saya Monyet! memenangkan tiga Piala Citra dan satu Penghargaan Khusus Dewan Juri dalam FFI 2009. Sekarang pasti banyak orang sedang menunggu film kedua kamu. Eh… persisnya, film berikutnya, karena sebetulnya kamu sudah menyelesaikan [...]


Profile

Totot indrarto

New Media Consultant @ Nasional Demokrat
Civic & Social Organization | Indonesia, ID

Experience

  • 2010 - Present

    New Media Consultant / Nasional Demokrat

  • 2009 - Present

    Head of Digital Engagement / New Hub

  • 2005 - Present

    Strategic Planning Director / Satucitra Advertising

    Ahli Iklan Sejak 1985
  • 2004 - Present

    Independent Blogger / Internet

  • 2003 - Present

    Independent Film Critic / Kompas Newspaper

  • 2000 - 2005

    Creative Director / Satucitra Advertising

  • 1994 - 1998

    General Manager / Cipta Citra Sports

    Promoter of Liga Dunnhill/Kansas
  • 1993 - 1998

    Assistant to President Director / Cipta Citra Advertising

  • 1993 - 1996

    Special Section Consultant / Media Indonesia Newspaper

  • 1990 - 1991

    Office of the President (O2P) Manager / Cipta Citra Advertising

  • 1987 - 1989

    Copywiter / Cipta Citra Advertising

Additional information

Websites:
Interests:
People, Life, Movie, Pop Culture, Internet, Communications

Posts

  • June 05, 09:59 AM
  • June 01, 11:08 PM

    Mohon Sejuta Maaf, dan Sebaris Doa

    Di Indonesia pernikahan lebih terasa menonjol sebagai peristiwa sosial. Sebuah resepsi pernikahan selalu menjadi reriungan sosial yang bisa menjelaskan seberapa besar jejaring sosial (kekerabatan, perkawanan, perkongsian, dll) dari kedua keluarga pengantin. Maka, jangan heran jika keberhasilan sebuah pernikahan di Indonesia biasanya diukur dari seberapa banyak tamu yang hadir.

    Tentu saja itu baik, sangat baik, karena tanpa ada momen istimewa seperti pernikahan atau — maaf — kematian, memang tidak mudah menghimpun semua itu di sebuah tempat, pada suatu waktu. Keburukannya mungkin cuma satu: untuk itu diperlukan biaya yang tidak sedikit alias mahal.

    Sejujurnya sudah lama saya gelisah menyaksikan fenomena tersebut. Kerap kali saya datang ke resepsi pernikahan besar dan mewah cuma buat “setor muka” kepada pengundang, makan seadanya, berhandai-handai sebentar dengan kerabat atau teman yang kebetulan saya jumpai, lalu pulang. Dan hanya untuk itu pembuat hajat mesti menghamburkan entah berapa ratus juta, bahkan miliar, rupiah.

    Teman-teman yang sering berbagi dengan saya tahu persis soal itu. Juga mafhum, jika menikahkan anak tunggal saya kelak, insya Allah saya tidak melakukan hal yang sama. Alhamdulillah sejak dulu si anak, Seruni, dan istri saya, Okto, sepenuhnya setuju.

    Maka, ketika momen itu akhirnya datang, 23 Mei 2010, begitulah yang kemudian terjadi. Kami hanya membuat dua resepsi sederhana di tempat yang kecil, paling banyak bisa menampung 200-an tamu. Pertama, di pagi hari, akad nikah dan syukuran keluarga. Kedua, malamnya, digelar pesta buat teman-teman pengantin.

    Karena memang dibuat dalam skala kecil dan sederhana, keluarga yang diundang menghadiri akad nikah dan syukuran terbatas pada keluarga kandung orangtua saya, Okto, dan orangtua Emir, beserta semua keturunannya. Sementara di pesta untuk teman-temannya, kedua pengantin cuma bisa mengundang 100 teman baiknya. Jumlah itu kemudian ditambah 30 teman keluarga orangtua Emir, 30 teman Okto, dan 30 teman saya.

    Padahal, jumlah seluruh keluarga besar kami berempat pastilah sangat banyak. Anak-anak muda yang tumbuh di zaman media sosial, seperti Seruni dan Emir, mungkin bisa punya ribuan teman. Dan teman-teman kami, para orangtua, juga mencapai ratusan. Jangan-jangan, jika sejak awal tidak diniatkan cuma membuat dua resepsi kecil, kami bakal menggelar resepsi pernikahan Seruni-Emir yang bisa menyaingi resepsi Dian Sastrowardoyo (5.000 tamu) atau Nia Ramadhani (10.000 tamu).

    Tapi mesti diakui, niat baik menggelar hajatan kecil dan sederhana semacam itu tidaklah mudah, baik di awal maupun setelahnya. Yang paling sulit adalah “tekanan sosial” karena kami dianggap seperti melanggar “tradisi sosial” yang sudah berlangsung turun-temurun di Indonesia. Yang tak kalah berat: menentukan sampai batas mana mata rantai keluarga dan relasi pertemanan yang diundang.

    Namun sesuatu yang baru, atau tidak biasa, memang tidak pernah mudah. Kami tinggal bisa berharap, semoga keluarga dan teman-teman yang tidak “terangkut” tempo hari bisa memahami dan memaklumi pilihan ini. Percayalah, ini pilihan yang sulit dan berat, tapi harus ada yang berani melakukannya. Semoga juga bermanfaat setidaknya buat menginspirasi keluarga-keluarga Indonesia yang lebih muda agar tidak terlalu khawatir melanggar “tradisi sosial” yang sangat baik itu namun mungkin tidak cocok lagi dengan kondisi (terutama perekonomian) masing-masing keluarga.

    Karena termasuk yang pertama melanggar “tradisi sosial” itu, kami pun merasa perlu menyiapkan “kompensasi”, yang tidak perlu dilakukan mereka yang sanggup menggelar resepsi besar. Pertama, buat mengabarkan pernikahan Seruni-Emir kepada lebih banyak orang. Kedua, menjelaskan mengapa diadakan kecil-kecilan dan sederhana saja. Dan ketiga, meminta maaf kepada semua yang secara tradisi seharusnya diundang dan hadir pada hari itu.

    Salah satunya melalui Blog ini.

    Jadi, inilah saatnya saya dan Okto, mewakili keluarga Irmawan Kanani dan Emma Hani Nurani, memohon sejuta maaf atas cara dan pilihan kami dalam merayakan pernikahan Seruni-Emir. Apabila dianggap salah, kurang ajar, atau melanggar “tradisi sosial” bangsa kita, mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya.

    Biarlah ini semua menjadi “dosa” yang mesti ditanggung oleh kami, para orangtuanya. Untuk pengantin baru, Seruni-Emir, sudilah kiranya tetap diberi sedikitnya sebaris doa agar pernikahan mereka mendapat berkah dan perlindungan Allah SWT.

  • June 01, 03:48 AM

    Kilas Balik Ratu dan Raja Kelima

    Berawal dari perkenalan secara random melalui seorang teman,
    beberapa pertemuan yang direncanakan maupun tidak direncanakan,
    meliputi beberapa perasaan senang, sedih, sakit, rindu, benci, dan bahagia,
    diselingi beberapa kali pertemuan yang membuahkan debar dan perpisahan yang menyiratkan kesakitan…

    Akhirnya kami,
    mengenal apa yang namanya cinta,
    dan disatukan olehnya (cinta) pada hari yang tidak akan kami lupakan,
    23 Mei 2010

    Bagi saya (Sang Ratu)…

    Tanggal 23 Mei kemarin benar-benar hari yang abstrak rasanya, semua perasaan bercampur menjadi satu…

    Saat menaiki tangga masjid untuk akad nikah, rasanya sesak bukan main, tidak bisa bernafas, seperti ada yang mengikat paru-paru sehingga udara tidak bisa mengalir dengan normal… Tetapi, lepas dari itu, hanya perasaan lega dan bahagia yang saya rasakan…

    Senyum dan tawa rasanya seperti menempel di wajah, tidak mau lepas sama sekali. Seperti memakai topeng kebahagiaan, dan topeng itu tidak dapat dilepaskan….

    Bagaimana tidak?

    Menikah di usia muda merupakan impian saya semenjak SMA, dan keinginan itu sekarang terwujud, bukan main rasanya…

    Buat saya, rasanya lebih membahagiakan daripada diberikan 10 pasang sepatu Manohlo Blahnik atau Jimmy Choo.

    Semoga, kebahagiaan ini tidak terhapus dan terus ada di dalam keluarga kecil saya ini, sampai nanti akhirnya saya dan si suami tercinta keriput dan dikelilingi oleh cucu-cucu.
    Amin….

    Bagi saya (Sang Raja)…

    Setelah saya melewati likunya kehidupan sendirian dan tentunya ada bimbingan dari orang tua, banyak pelajaran yang saya dapatt untuk menjadi seseorang yang lebih dewasa dan bertanggung jawab..

    Seperti yang selalu papah bilang kepada saya, “Suatu saat kamu akan memiliki keluarga sendiri jadi kamu harus bisa untuk bertanggung jawab kepada apa saja yang terjadi dalam kehidupan kamu, apalagi kamu seorang laki-laki.”

    Saya memang mempunyai impian untuk tidak menikah terlalu lambat karena saya ingin memiliki anak yang usianya tidak terpaut jauh dengan saya. Impian yang kemudian terwujud tanggal 23 Mei 2010.

    Perasaan pada saat  akan mengarungi kehidupan baru saya dengan gadis pilihan saya, yang amat saya cintai dan sayangi, yang bernama Seruni Sekaring Putri?

    Banyak rasa yang bergejolak di dalam perasaan maupun pikiran saya, mulai dari sedih, senang, bahagia, tegang. Semua bercampur menjadi satu, sampai sempat saya berucap di dalam hati, “Apa memang begini ya rasanya orang yang menikah?”

    Sekarang saya telah memiliki keluarga baru yang amat saya sayangi dan hormati, memiliki kehidupan yang baru bersama keluarga baru saya.

    Mertua saya yang bernama Ayah Totot Indrarto dan mamah Okto Indrarto yang amat baik dan perhatian kepada saya, Seruni, dan juga kepada kehidupan keluarga kecil kami. Ayah dan mamah juga memberikan bimbingan kepada saya dan Seruni agar dalam mengarungi rumah tangga memiliki kedewasaan dan dapat mengontrol emosi masing-masing. Selain itu, orang tua saya juga memberikan wejangan-wejangan yang makin melengkapi pelajaran yang saya dapat.

    Saya merasa kehidupan saya lengkap sudah.

    Saat ini saya sudah menjadi seorang suami yang harus bisa membimbing istri dan keluarga kecil saya ke dalam kehidupan yang baik..

    Terima kasih kepada kedua orang tua (papah Irmawan dan mamah Emma) dan mertua saya (ayah Totot dan mamah Okto) yang telah memberikan perhatian dan kasih sayang yang tiada terhingga.

    Terima kasih juga kepada keluarga, teman-teman, sahabat (baik sahabat orang tua ataupun sahabat saya dan Seruni) yang telah melengkapi kebahagiaan di hari perkawinan saya dan Seruni, yang akan kami ingat sampai kakek nenek.

  • June 01, 03:11 AM

    Allah Selalu Mendengar

    Sekitar tiga-empat tahun yang lalu, Okto pernah bilang ke Adjie kalau nanti di saat memasuki usia 50 tahun, Okto pingin pensiun, berhenti dari kegiatan di House of Adjie (HOA). Bukan berhenti total, tapi Okto masih akan tetap bantu-bantu dari belakang layar. ‘Kan tetap harus ada regenerasi yaaa. Mosok HOA pegawainya nenek-nenek keriput yang udah kendor. Ga fresh, ga sedep dipandang donk yaa.

    Tapi Adjie selaluuu dengan mesem-mesem menolak permintaan Okto. Katanya gini, “To, lu tetep terus kerja sampe umur 70.”

    “Djie, mosok Okto udah kendor, selulit udah di mana-mana, masih tetep harus tampil pake rok mini, pake boots, sepatu haken (maksudnya pake high heels). Selain itu ‘kan memory udah semakin error. Sekarang aza udah sering lupa.”

    Tapi Adjie emang ga pernah dengerin dengan serius omongan Okto. Buat dia, pokoknya Okto harus tetep kerja sepanjang masa. Kekeuh marekeuh jumekeuh judulnya. Titik.

    Sampai akhirnya Okto bantu-bantu kegiatannya Ivan di butiknya yang mengkhususkan pada pakaian pengantin, LOVE by Ivan Gunawan, rencana ini pun Okto bilang ke Ivan.

    Waktu itu Ivan abis show buat Jakarta Fashion Week di Pacific Place. Saat Okto pamit buat pulang sebubar acara show, sambil peluk Okto dengan kenceeennggg banget, Ivan bilang gini, “Torrrroooo, lu ga boleh pensiun. Lu harus tetep bantuin gue yaa.”

    Hix… terharu Okto. Dan lagi-lagi Okto pun bimbang. Dunia fashion memang udah jadi sebagian dari nyawanya Okto. Cintaaaa bangeedd Okto sama lingkungan ini. Pertemanannya juga amat sangat menyenangkan, hangat dan akrab.

    Kalau ditanya, “Apa iya Okto serius mau pensiun? Terus mau ngapain kalo pensiun?”

    Jawaban Okto adalah, “Iya, nanti kalo umur 50 Okto mau pensiun. Abis itu yaaa bikin bisnis online kecil-kecilan, biar Okto ga bengong. Biar ga cepet pikun. Biar otaknya masih tetep aktif dipake.”

    Tapi jujur niii yaaa, sebetulnya Okto juga masih beraaaattt buat ninggalin dunia fashion yang hingar-bingar dan selalu membuat Okto sumringah setiap saat.

    Buat Okto, berkumpul, kerja ngurusin baju-baju cantik, itu memberikan energi tersendiri. Energi yang bikin Okto selaluuu heppiii. Belum lagi kalo ketemu sama temen-temen yang rata-rata gilingan semua. Uuuuhhh… betul-betul bikin Okto semakin berat hati buat pergi.

    Tapi… teteeppp harus diakui, Okto udah ga selincah dulu, ga sesigap dulu, daya ingatnya juga udah ga bagus, dan udah sering cepet kerasa cape. Usia tuwak emang ga bisa dilawan. Itu betul bangeeddd!!!

    Dari niat yang maju-mundur itu, ternyata pada akhirnya tampaknya bakalan segera terwujud, ketika tiba juga waktunya buat Okto dan Pak Bojo menikahkan Seruni a.k.a. Ajeng dengan Emir, hari Minggu lalu, 23 Mei 2010.

    Allah sepertinya memang mendengar dan selalu mengabulkan niatan Okto, walau mungkin itu cuma terucap di dalam hati.

    Contoh lain adalah, pernah terbesit di benak Okto buat mempunyai anak satu aza. Kenapa? Maleeess aahh, musti hamil melulu dan ngurusin anak. Okto bukan termasuk perempuan yang telaten dan sabar ngurusin anak. Egoisme Okto terlalu tinggi. Buat Okto, punya anak bayi itu mengganggu kesenangan Okto buat bisa keluyuran bersenang-senang sama teman-teman. ‘Kelainan jiwa’? Iya juga kali yeeee.

    Tapi itu bukan berarti Okto ga hepi punya anak yaa. Sama sekali enggak. Okto teteepp heppiii koq!! Sambil marah-marah, ngomel-ngomel, jengkelan, rempongan berduaan, dugeman bareng, peluk-peluk, cium-cium Seruni, sempat saling bertukar-pinjam baju (waktu badan Okto masih belum seberdaging sekarang, hix), bertukar-pinjam aksesoris, semua Okto lalui dengan nikmat.

    Teteeeeppp ada kenikmatan tersendiri mempunyai seorang anak. Mungkin Okto hanya tak merasa nyaman, saat si anak masih bayi, masih kecil, di mana dia belum bisa mandiri.

    Dan ternyata, Allah mengabulkan niat di dalam hati tersebut. Okto dikasih anak cuma satu. Memang pernah sempat berniat nambah satu anak lagi. Tapi prosesnya mengerikan deh!! Okto sampai pendarahan segala, padahal saat itu Okto sendirian pergi ke RS Siloam Gleneagles, Karawaci. Horroooorrrr….

    Dan, memasuki usia 50 tahun, Allah pun memberikan berkah indahnya kepada Okto. Tampaknya Allah akan  mengabulkan permintaan Okto buat bisa pensiun dengan memberikan seorang mantu untuk menjadi pendampingnya Seruni mengarungi kehidupan dewasanya.

    Bersiap diri menyambut hadirnya sang cucu dan mengurus sang cucu. Hiiii… bisa ga yaa. Secara, Okto itu paling ga berani gendong bayi kalau lehernya belum bisa tegak. Selain itu, ini memang keajaiban yang lain dari seorang O-K-T-O, bahwa Okto selaluuuuu geliiikk kalo liat bayi yang baru lahir. Bayi yang kecil, cimit, hiiiii… bisa bikin Okto bergidik.

    Terus, gimana rasanya punya mantu, punya besan, menambah keluarga baru? Aneh!! Sumpah, bener-bener aneh!!

    Rasa aneh ini sama persis seperti saat Okto memiliki suami. Geliikkk gitu mendapat gelar tak tertulis NYONYA, IBU. Terus nama kita kadang suka berubah, dipanggil dengan sebutan nama suami. Iiiiiiihhhh….

    Tapi, dari awal banget, Okto udah berniat buat ga jaim-jaiman di depan besan deh!! Adanya Okto begini, keliatan rada sawan yaa ga Okto tutup-tutupin. Yang penting besan bisa segera tau. Jangan mereka baru pingsan-pingsan 3-4 bulan kemudian, secara baru tau utuh kalo besannya rada sarap. Ha6.

    Tapi yang paling menyenangkan buat Okto adalah saat mempersiapkan Seruni jadi pengantin hingga tiba di hari-H.

    Uuuhhh… walo teler, capppeee, badan rasanya rontok, remek, tapi Okto betul-betul semangat. Karena apa? Karena waktu mau nikah, sepertinya Okto ga mengalami yang Seruni alami.

    Menjelang menikah, Seruni betul-betul dijadiin Ratu sama Pak Bojo. Diperlakukan dengan amat istimewa. Dia maunya apa, yaa diturutin.

    Oya, sebelumnya Pak Bojo memang sudah bilang ke Okto bahwa buat pernikahan Seruni dan Emir tidak akan ada kebaya dan konde. He6… Pak Bojo tauuu bangeedd memang, kalou istrinya itu paling benci sama yang namanya kain-kebaya dan konde. Ribeedd musti majangin rambut segala. Panaass.

    Jadi… “Gimme five donk my hubby,” makasiiihh udah bikin sang istri bersemangat mencari desain baju untuk saat resepsi Pesta Sahabat di malam hari. Ga perlu bete’-bete’ musti berkonde dan berkebaya. Makasiiiihhh.

    Selain Seruni yang dimanja-manja, ada juga bagian serunya di urusan baju pengantin.

    Waktu Okto cerita ke Adjie kalau Seruni mau nikah dengan spontan Adjie bilang gini, “To, baju pengantinnya gue yang siapin yaa buat Ajeng (warna putih), lu (warna hijau botol), sama besan lu (warna biru).”

    Memang koleksi Adjie yang terbaru belum lama muncul di TV, saat acara Indonesian Movie Award. Menurut Adjie, baju yang dipake sama Mbak Widyawati akan dikasih buat Ajeng dan baju yang dipake sama Rae Sita akan dikasih untuk Okto dan Emma (besan). Waaa…. Alhamdulillah, seneng banget Okto. Terima kasih bangeedd ya Djie.

    Karena baju yang Adjie berikan berkesan semi tradisional, maka Okto putuskan baju itu akan digunakan untuk akad. Kebetulan Okto memang mentok ide buat acara akad. Bingung mau pakai model baju seperti apa. Bahkan buat Seruni pun belum muncul ide sama sekali.

    Selain Adjie, Ivan pun memaksaaaaa buat bikinin baju saat resepsi. Padahal Okto dan Seruni udah nemu model buat baju resepsi, bahkan udah beli bahan dan tarok bahannya ke penjahit.

    Sore itu, Ivan telepon Okto, cek seperti apa baju yang buat Seruni. Dia ngomel-ngomel. Ga sreg sama modelnya. Sedih katanya. Okto cuma jawab, “Apa siii Van, orang Okto dan Seruni heppiii koq kamu malah sedih.”

    Besok paginya, Ivan telepon Okto lagi dan bilang gini, “To, gue semalam mimpi bikin baju pengantinnya begini begini begini. Cantiiikk terbang-terbang ketiup angin. Jadi, gue bakalan bikinin baju buat resepsi yaaa. Udah, lu ga usah bawel!!”

    Ya sudah, Okto memang ga boleh bawel. Dapat rezeki koq ditolak yaa. Sudah pasti baju dari Ivan pun bakalan cantik, seperti juga baju yang dari Adjie. Alhamdulillah… Okto memang selalu merasa bahwa Allah itu selaluuuu baik hati sama Okto dengan memberikan teman-teman yang maniez-maniez dan selalu menyayangi Okto.

    Selain baju, Ivan juga akan mensponsori hiasan-hiasan bunga untuk mempercantik Club House Sutera Telaga. Dan pada akhirnya Ivan juga bilang kalau Cicik Cecilia ikutan mensponsori bunga. Alhamdulillah… makasiiihh yaaa Ivan dan Cicik. Kalian ikut melengkapi kebahagiaan Okto.

    Karena Abang Nadhir sedang tugas ke Bali, maka urusan make up dan hair do beralih ke Anpa dan Tedza. Lewat Ade Sagi-lah, bisa berhubungan sama Anpa dan Tedza.

    Mengingat anaknya Okto bawel, he6, maka Okto minta ke Anpa dan Tedza supaya ada test make up dan hairdo, biar pas hari-H, udah jelas mau didandanin seperti apa, daripada Seruni ntar jadi nyeprut.

    Saat test make up, Seruni heeppiii banget. Karena dia memang sebetulnya suka didandanin seperti itu. Beda sama mbok-nya Seruni yang paling anti kalau harus full make up. Buat Okto, kalou Okto harus sampai full make up bukannya jadi keliatan cantik, tapi malah Okto ga ada pantes-pantesnya sama sekali. Busuk. Dan Okto memang ga suka kalau alisnya harus dicukur, dibentuk, terus musti pake bulu mata palsu. Hiiiiii….

    Saat test make up, Seruni udah langsung keliatan cantiiikkk banget deh!!! Seneng Okto ngeliatnya.

    Beres urusan make up, tiba urusan kuku. Seruni pingin pake kuku palsu terus pake kuteks warna putih. Akhirnya Okto dan Seruni menuju SMS (Summarecon Mall Serpong) deh!! Pilih-pilih warna kuteks dan sistem pake kuteksnya, akhirnya dipilih pakai warna putih di bagian ujung kuku dan bening di bagian lainnya Tadinya Seruni mau pakai blink-blink, tapi Okto ga setuju, abis koq kesannya jadi seperti berlebihan deh!! Kurang pengantin. Lebih bergaya kaya artis, malahan. Nggak banged ah!!

    Dan ternyata… pasang kuku dan kuteks, makan waktu lamaaa buangeedd. Okto udah sengaja refleksi yang 1.5 jam, ternyata masih nunggu lamaaaaa sampe akhirnya Seruni betul-betul selesai urusan kukunya. Widiiihhh… ga pernah ngimpi deh bahwa one day Okto bakalan nyoba-nyoba pasang kuku palsu. Maleess, lamaaa. Mendingan berlama-lama di spa aza deh!!

    Setelah urusan persiapan dinilai beres, tiba-tiba Okto punya ide mendadak pingin agak mempercantik Masjid Nur Asma Ulhusna, Alam Sutera. Sebelumnya, Pak Bojo memang sudah meminta tolong pengurus Masjid untuk mengkuas ulang Masjid, di bagian yang ada bekas bocor. Tapi koq Okto merasa seperti kurang lengkap kalau ga ada bunga-bunganya, walau cuma sedikit.

    Akhirnya, Okto SOS ke teman SD, Atrina, yang berbisnis florist. Okto minta dibuatkan 10 pot bunga buat ditaruh di anak tangga Masjid, satu pot bunga untuk meja Akad dan Okto minta dibuatkan corsage, juga wrist bouquet buat genit-genitan.

    Akhirnya, melalui telepon dan Blackberry Messagenya-lah kami berkomunikasi sampai  Atrina menangkap maksudnya Okto yang udah last minute tapi juga bawel permintaannya.

    Atrina muncul dengan usulan akan membuatkan standing flower sebagai gantinya pot bunga. Okto pokoknya mempercayakan 100% urusan bunga yang last minute ini ke Atrina.

    Ketika hari-H, setiba di Masjid, Okto bahagia bangeedd karena bunga dari Atrina yang menghiasi anak tangga, cantik nian. Masjid Alam Sutera yang penampilannya sederhana, jadi tampak sumringah. Dan ternyata, Pak Bojo pun jatuh cinta sama standing flower tersebut. Ini sebuah bukti bahwa rangkaian bunga itu memang betul-betul cantik. Karena Pak Bojonya Okto termasuk orang yang perfeksionis dan riwiiiill urusan yang begini-begini. Segala sesuatunya harus tampak sempurna dan pas di matanya.

    Dan sekali lagi rezeki pun datang. Rangkaian bunga-bunga cantik yang Okto pesan secara mendadak, diberikan Atrina sebagai kado pernikahan. Trin… makasih bangeedd yaa.

    Saat pengantin datang, Okto sempat terharu deh liat anak gadisku. Dia cantiikk banget. Tampak lebih cantik dibanding saat test make up.

    Dan keajaiban pun terjadi. Ternyata Okto ga nangis sesenggrukan loh saat akad. Karena apa? Karena Okto mendengar suara Seruni yang kuat dan tenang. Kalau dia bisa kuat, mosok Okto ga kuat yaa. Padahal, di setiap acara akad dan pemberkatan pernikahan, siapa pun yang menikah, Okto pastiiii bakalan berlinang-linang.

    Bubar dari Masjid, kami menuju Club House. Emir, si pengantin cowoq, menyetir sendiri mobil pengantin menuju Club House. Ini memang idenya Pak Bojo. Ia mendapat pinjaman mobil VW Beetle dari salah satu temannya yang diberi tempelan stiker sama Pak Bojo:

    Tiba di Club House, Okto dibuat terkagum-kagum lagi, karena lokasi tersebut seperti disulap menjadi begitu cantik hasil karya Jeannette, Bu Boss-nya Pak Bojo. Sentuhan yang Indonesia banget!!

    Jeannette, yang biasa disebut JES, udah sejak semalam memang memberesi Club House, termasuk juga bersibuk-sibuk menyiapkan menu yang dikumpulkan dari berbagai ahli masak.

    Suasana syukuran sambil makan siang itu terasa begitu homey. Semua teman dan sedulur yang Okto hampiri memuji makanan yang tersedia siang itu. Menurut mereka, semua makanannya terasa enak. Alhamdulillah… ini semua hasil sibuk-sibuknya JES yang betul-betul terjun langsung bahkan sampai tidak tidur sejak malam sebelum hari-H, hingga acara bubar di sore hari. JES, terima kasih berjutaaaaa.

    Malam harinya, walau sempat diguyur hujan dan membuat hati Okto sempat ciut, akhirnya bisa berlega hati karena, selain hujan pun pada akhirnya berhenti, tetapi juga dekor hiasan bunga, lampion, dan pita-pita putih hasil karya Ritchie dan kawan-kawan betul-betul cantik. Setelah di pagi hari bernuansa Indonesia yang homey, maka di malam hari suasana berubah total menjadi bernuansa putih nan romantis.

    Club House memang tidak diterangi secara benderang di keseluruhan ruang, tapi ada bagian-bagian yang dibuat redup. Malam itu, dengan sebagian besar tamu yang mematuhi dresscode: nuansa putih, suasana di Club House terasa begitu romaaannttiiisss.

    Resepsi ini kami sebut Pesta Sahabat. Sahabat sang pengantin dan juga sahabat orang tua pengantin. Karenanya suasananya pun terasa akrab dan hangat.

    Legaaa, semua udah berjalan sesuai harapan. Dan Okto mau terima kasih juga buat yang udah nemenin Okto secara invisible, dari hari ke hari.

    My sisters and brothers, I luuuuvvvv U all. Thank you for always there for me.

    Terima kasih buat Non dan Kis. Kasih sayang dan cinta kasih kalian, betul-betul menjadi extra energi buat Okto. Tetaplah ada buat Okto selamanya.

    Uncle Theodore, bedankt voor alle lieve attentie. Ik wou dat je hier was.

  • May 28, 10:27 AM

    Tentang Ratu dan Raja Kelima

    Pernikahan adalah momen kebahagiaan. Maka, esensi resepsi pernikahan tak lain tak bukan ialah merayakan kegembiraan bersama: pengantin, keluarga, serta semua yang mengenal pengantin dan keluarganya.

    Begitulah kemudian saya dan Okto menamakan resepsi pernikahan Seruni-Emir dengan istilah “Syukuran Keluarga” (siang) dan “Pesta Sahabat” (malam). Keduanya — bersyukur dan berpesta — merupakan cara mengekspresikan kegembiraan.

    Sebelumnya kami memang telah memutuskan membuat dua resepsi terpisah, karena khawatir jika dua kelompok tamu yang berbeda disatukan dalam sebuah acara bakal menimbulkan ketidaknyamanan dan kekikukkan, yang ujung-ujungnya malah membunuh tujuan utamanya: berbagi kegembiraan. Keluarga tidak nyaman, dan sebaliknya sahabat-sababat pengantin kikuk, karena masing-masing kelihatannya punya cara berbeda mengekspresikan kegembiraan.

    Itulah sebabnya, menurut saya, konsep undangan pernikahan Seruni-Emir mesti merepresentasikan ajakan bergembira.

    Saya dan Seruni-Emir memilih pendekatan yang agak santai untuk memperlihatkan suasana gembira. Supaya komunikatif sengaja dicari tema yang sangat “dangdut” (baca: biasa banget, lempeng-lempeng saja, dan cenderung norak), yaitu tentang sepasang kekasih yang begitu saling mencintainya hingga merasa tidak mungkin dipisahkan lagi dan ngebet ingin menikah. Aduh, lontong… eh, tolooong!

    Persoalannya kemudian, meminjam bahasa Seruni, “Gimana bikin yang dangdut itu jadi gak neneng?” Jawaban saya, “Dengan metafora!”

    Antonio Skármeta, dalam novel Il Postino (difilmkan dengan bagus oleh sutradara Michael Radford, 1994), yang menceritakan tentang penyair besar Chile, Pablo Neruda, menjelaskan soal metafora:

    Neruda melepas gerendel gerbang dan mengusap dagu.”Mario Jimenez, aku punya buku yang jauh lebih bagus daripada Elemental Odes. Sungguh memalukan menghadapkan aku pada seluruh perumpaan dan metafora itu.”
    “Pak?”
    “Metafora, kataku!”
    “Apa itu?”
    Sang penyair menaruh tangannya di pundak sang bocah.
    “Kurang lebihnya, kita bisa mengatakan bahwa ada suatu cara memerikan sesuatu dengan membandingkannya dengan hal lain.”
    “Beri saya contoh.”
    Neruda melihat arloji dan mendesah.
    “Begini, jika kau mengatakan langit sedang menangis, apa yang kau maksud?”
    “Gampang. Hujan?”
    “Nah, itulah metafora.”

    Juga dengan maksud agar komunikatif, saya mencari metafora yang sederhana dan populer buat — dalam istilah Neruda di atas — membandingkannya dengan sepasang kekasih yang “dangdut” itu. Begitulah, saya kemudian menggambarkan mereka sebagai pasangan yang ingin dinobatkan menjadi ratu dan raja.

    Selanjutnya tinggal mengelaborasi metafora ratu dan raja tersebut. Kendati saya penulis, saya tidak mau melakukannya sendiri. Pasti tidak berhasil, karena saya terlalu terlibat alias tidak berjarak. Seperti dokter sebaiknya tidak mengobati dirinya sendiri di saat sakit.

    Banyak teman saya penulis, tapi saya memilih penyair karena lebih kuat dalam metafora. Banyak teman penyair, namun saya akhirnya memilih Hasan Aspahani karena menyukai spontanitas dan kegairahannya bereksperimen.

    Saya tahu Hasan tidak mungkin menolak permintaan saya. Selain karena bakal menjadi tantangan baru yang menarik baginya, ia menyimpan “utang budi” pada saya.

    Ceritanya, setelah bertahun-tahun menulis puisi, sajak-sajaknya tidak pernah dimuat di Kompas Minggu. Baru berhasil setelah berteman dengan saya, bahkan sampai berkali-kali, hingga menjadikan reputasi kepenyairannya menasional. Bukan, bukan karena “kesaktian” saya, melainkan karena selama ini ia ternyata mengirim karya-karyanya ke email umum Kompas, dan saya memberinya email pribadi redaktur puisi Kompas Minggu.

    Penyair, blogger, dan Pemimpin Redaksi Batam Pos itu saya todong lewat DM (Direct Message) Twitter. Maksudnya supaya metafora-metafora yang dibuatnya tidak lebih dari 140 karakter, karena kalau terlampau panjang jadi tidak menarik.

    Dua metafora karya Hasan Aspahani mengenai pasangan “dangdut” itu kemudian saya gunakan sebagai teks dalam undangan. Salah satunya — tentang Ratu dan Raja Kelima — menjadi metafora utama pernikahan Seruni-Emir.

    Di sini metafora berfungsi menutupi sesuatu yang “neneng” jadi terlihat lebih “berkelas”. Tapi sebutan Ratu dan Raja ini tidak sedikit pun berpretensi menyamakan Seruni-Emir dengan ratu dan raja sungguhan. Buktinya, di halaman muka mereka mensejajarkan diri dengan kartu remi, dan di halaman belakang seperti tokoh dongeng anak-anak, Cinderella.

    Metafora tersebut digunakan — seperti dijelaskan bagian di atas — sekadar buat menunjukkan kegembiraan sekaligus ajakan bergembira bersama. Anggaplah semacam gurauan, yang mudah-mudahan tidak garing. Diundang menghadiri resepsi pernikahan sudah biasa, tapi ke penobatan ratu dan raja? Ratu dan raja kelima pula. Rugi kalau tak datang, apalagi jika dalam penobatan empat ratu dan raja sebelumnya tidak diundang.

  • May 24, 01:01 PM

    Pernikahan Tanpa Tradisi Budaya

    Penikahan Seruni-Emir sejak awal memang hanya direncanakan sebagai ritual keagamaan dan peristiwa sosial. Tanpa upacara adat atau tradisi budaya tertentu.

    Sebagaimana orangtuanya, setidaknya saya dan Okto, kedua pengantin adalah anak kandung atau produk masyarakat urban yang isi hati dan kepalanya tidak lagi tersekat-sekat oleh batasan tradisi, adat, dan sejenisnya.

    Seruni bahkan — karena situasi sosial yang membesarkannya sudah sangat terbuka dan cair — tidak pernah mengerti betul bedanya dia sebagai keturunan Jawa dengan Emir yang keturunan Sunda. Seandainya pun tahu, baginya mungkin, seperti pernah diucapkan anak gadis seorang sahabat saya, “Emang penting, gitu?”

    Suatu hari saya mengatakan pada Seruni, “Si M itu (salah satu sahabatnya yang suka menginap di rumah) Batak ya?” Jawabnya, “Hah? Gak tauk! Ayah tau dari mana?” Saya jawab, “Namanya pake Pohan. Batak itu!” Katanya, “Oh gitu ya? Gak tauk aku!”

    Ia kelihatannya juga tidak peduli atau merasakan perbedaan ketika pembimbing skripsinya yang semula orang Indonesia diganti oleh dosen berkebangsaan Jerman.

    Jadi saya tidak mau masuk ke wilayah yang justru bakal menimbulkan keribetan atau komplikasi baru, padahal pengantinnya sendiri tidak sedikit pun memahami makna dan relevansi semua itu dengan dirinya.

    Ritual Keagamaan

    Sebagai ritual keagamaan, buat saya ada dua hal penting yang mesti dipenuhi. Pertama, tentu saja, harus memenuhi 5 Rukun Nikah. Kedua, karena pernikahan sesungguhnya pengikatan janji pengantin di hadapan Allah SWT, ia sebaiknya dilakukan di Rumah Allah, yakni masjid. IMHO, itulah sebaik-baiknya tempat buat melakukan hal tersebut dibandingkan rumah atau gedung lain semegah dan semewah apapun.

    Di luar dua hal itu cuma pelengkap, yang boleh dilakukan dan boleh tidak. Untuk pernikahan Seruni-Emir kami tidak menambah bonus apapun, alias cuma berkonsentrasi pada dua hal itu. Kebetulan, tidak terlalu jauh dari rumah kami, ada masjid yang meskipun tidak mewah namun cukup layak dan bisa menampung sampai 500 jemaah.

    Peristiwa Sosial

    Sementara sebagai peristiwa sosial, bagi kami hal yang terpenting adalah masalah hospitality. Dan itu kami terjemahkan dalam tiga hal: tempat terbaik, suasana terbaik, dan hidangan terbaik. Tentu, “terbaik” menurut batas kemampuan kami.

    Hanya jika ketiga hal itu terpenuhi, insya Allah sebuah resepsi pernikahan (apapun sebutan dan bentuknya) bakal berlangsung intim, menyenangkan, dan mengesankan. Artinya, para tamu nyaman dan betah karena merasa dihargai, atau dihormati, dan diperlakukan dengan baik — bahkan bila itu dilakukan dalam skala kecil dan sederhana.

    Tempat Terbaik

    Okto sampai berkeliling Serpong-Tangerang dan Jakarta cuma buat mencari tempat terbaik. Karena sejak awal saya menolak ruangan kotak tertutup seperti di hotel-hotel (karena buat saya itu benar-benar kartu mati buat membangun suasana yang asyik), ia akhirnya keluar-masuk Club House sejumlah perumahan mewah.

    Alam Sutera Club House akhirnya dipilih karena itu memang tempat terbaik, sama sekali bukan karena jaraknya yang dekat dari rumah kami. Kendati agak sempit, pembagian ruang, yang separuhnya berada di area terbuka, tidak monoton. Tapi kelebihan utama tempat ini adalah latarnya: dibatasi kolam renang yang seolah-olah menyambung dengan danau.

    Sangat indah di siang hari, dan malamnya — dengan tambahan lampu-lampu yang tepat — benar-benar romantis.

    Suasana Terbaik

    Soal kedua (menciptakan suasana terbaik) melibatkan unsur manusia dan atmosfer.

    Supaya tuan rumah memiliki kebebasan berkeliling dan berhandai-handai dengan semua tamu, baik di Syukuran Keluarga (siang) maupun Pesta Sahabat (malam) tidak disediakan kursi untuk keempat orang tua pengantin. Yang ada cuma kursi pengantin yang di siang hari sering ditinggal Seruni dan Emir, sedangkan di malam hari sengaja dipilih pelaminan China berukuran besar yang diletakkan di area terbuka persis di sisi kolam.

    Karena jumlah undangan acara malam lebih banyak dibanding siang, saya menyediakan 80 kursi dengan meja supaya banyak tamu bisa bergantian duduk, makan, dan ngobrol dengan lebih nyaman. 50 kursi dan meja makan bulat di ruang beratap, sedangkan 30 kursi dan meja kecil alumunium disebar di seputar kolam.

    Sayang, selain jumlah tamu yang hadir ternyata melebihi perhitungan dan malam itu lantai area terbuka basah akibat hujan agak deras sebelum acara dimulai, mobilitas Seruni dan Emir sedikit terganggu. Tapi agak malaman, setelah beberapa tamu berangsur pulang, keintiman tamu dengan empunya hajat maupun sesama tamu terasa semakin gayeng seperti yang diharapkan — sebagaimana berlangsung sangat menyenangkan di siang hari.

    Interior siang, pada Syukuran Keluarga, karena menyesuaikan dengan makanan khas beberapa daerah Indonesia yang disajikan, dibuat seolah-olah seperti rumah besar tempoe doeloe yang memiliki banyak ruang dan pelataran terbuka. Beberapa set sofa kayu yang berbeda disebar di beberapa sudut ruang. Di depan pelaminan dibiarkan kosong, hanya digelar dua karpet besar bertabur melati.

    Mbak Jeannette, bos besar saya di kantor, sampai harus memboyong tiga truk koleksi furniture antiknya buat menciptakan suasana homey yang diinginkan. Ia juga sejak pagi buta memborong banyak bunga di Rawabelong buat mempercantik sekaligus mengharumkan ruangan.

    Sekitar seminggu sebelumnya Mbak Jeannette bilang sedang ke Plered, Purwakarta, untuk mencari piring-piring besar buat wadah makanan di acara mantu saya. “Jelek kalau pakai piring biasa, gak cocok sama makanan dan meja-mejanya,” katanya. Malam menjelang hari H, saat bersama Enin dan Mei menata interior buat acara besok, saya hanya melihat dua keramik berwarna terakota khas Plered. Ketika saya tanya kenapa cuma sedikit, ia menunjuk sejumlah piring dan mangkuk besar cokelat tua kehitaman yang saya kira barang antik koleksinya, “Itu semua juga! Gue suruh bakar dulu, baru tadi siang dianter.”

    Malamnya, di Pesta Sahabat, giliran Cici Cecil dan Ivan Gunawan yang menyumbang bunga dan dekorasi modern bernuansa off-white. Desainer interior andalan mereka, Ritchie, menyebar bunga-bunga segar serba putih, selain membuat bunga-bunga artifisial dengan lampu. Ia juga memasang sejumlah tirai putih yang disinari spotlight, menggantung lampion-lampion dan pita-pita putih di pohon, ditambah beberapa pernik lain untuk memperkuat atmosfer romantis.

    Bertambah romantis karena sebagian besar tamu, terutama teman-teman Seruni dan Okto, mematuhi dresscode (santai nuansa putih). Sayang, buket-buket lilin yang dipasang di tepi luar kolam padam terkena hujan dan sulit dihidupkan lagi sesudahnya karena hembusan angin terlalu keras.

    Malam itu suasana intim dan romantis dihangatkan juga dengan live music dari bandnya anak-anak Jurusan Seni Musik UPH (Universitas Pelita Harapan). Mereka bersedia bermain tidak berisik sampai mengganggu tamu-tamu yang sedang ngobrol, dengan membawakan lagu-lagu jazzy dalam format akustik. “Pakai saxophone dan flute ya,” pinta saya sejak awal. “Saya lagi cari tambahan pemain biola, Pak,” kaya Yusuf, koordinator mereka, berinisiatif beberapa hari sebelum acara.

    Hidangan Terbaik

    Soal ketiga, yaitu menyajikan hidangan terbaik, sempat membuat saya frustrasi.

    Karena menu masakan Indonesia yang disediakan katering cuma itu-itu saja, untuk Syukuran Keluarga saya terpaksa meminta bantuan Mbak Jeannete. Ia mengusulkan memesan — dan beberapa akan dimasaknya sendiri — beberapa makanan Indonesia dari berbagaai tempat yang sudah terbukti enak. Saya dan Okto, setelah menyetujui pilihan menunya, cuma bisa pasrah karena ia yang bakal mengurus dan menghidangkannya sendiri dengan bantuan beberapa teman kantor saya.

    Alhamdulillah, semua tamu tak habis-habisnya memuji saya dan Okto bahwa makanan yang disajikan enak semuanya. Dengan mudah saya melempar “tanggung jawab” langsung pada Mbak Jeannette yang sesiang itu, meskipun semalaman belum tidur, masih saja sibuk bolak-balik dari pantry ke meja makanan buat menambah makanan yang mulai berkurang. “Ini yang mantu Mbak Jeannette kok, bukan saya sama Okto,” kata saya kepada om-om dan tante-tante saya, tak tahu lagi harus berterima kasih dengan cara apa kepadanya.

    Saudara-saudara yang saya tahan agar pulang belakangan supaya bisa membawa pulang makanan yang masih berlimpah lagsung bersemangat. Dibantu Mbak Jeannette, mereka kemudian benar-benar membungkus seluruh makanan yang tersisa. “Terima kasih, Tot, baru sekali ini kondangan pulangnya bawa berkat, hahahaha…” kata tante-tante saya dengan gembira.

    Untuk Pesta Sahabat, karena sebagian besar tamunya anak muda, saya dan Okto agak lebih santai. Kami yakin, katering dari Amarangana milik Mbak Neneng, sahabat Okto, sudah memadai buat lidah mereka yang relatif lebih demokratis dan tidak terlampau kritis. Meskipun begitu, saya sejak awal menolak menu prasmanan. Jadi Okto kemudian memilih beberapa menu gubug — gabungan makanan Barat dan Indonesia — untuk disajikan secara prasmanan.

    Sialnya, meskipun sudah diperhitungkan berlebih, di tengah pesta ternyata makanan habis. Saya yang sempat stres akhirnya bisa ditenangkan oleh Okto dan beberapa teman yang mengatakan bahwa yang kehabisan makanan itu adalah mereka yang mau mengambil lagi untuk kedua, ketiga, atau keempat kalinya. Beberapa teman yang datangnya benar-benar terlambat — antara lain Rangga Sastrowardoyo, Satyo Nugroho, dan Mas Yockie Suryo Prayogo — memang sama sekali tidak kebagian makanan.

    Di samping makanan dan camilan (pancake, poffertjes, lemang tapai Kramat), buat membikin tamu lebih betah, saya menyediakan Cafe´ Americano, Cappuccino, Cafe´ Latte, dan Macchiato Caramel dari Tornado/Coffewar, Kemang, tempat banyak teman pengopi berat nongkrong. Karena takut mengecewakan saya, Supri dan Derby, “juragan” Tornado/Coffeewar, sampai harus membawa mesin pembuat kopi yang konsumsi listriknya dua kali lebih besar dari seluruh sound system dan peralatan band.

    Untuk tujuan yang sama, tentu saja harus ada bir. Kendati sempat “diprotes” ayah Emir yang sudah Haji, Okto berhasil meyakinkan bahwa bir itu kan buat anak-anak muda yang memang biasa minum bir. Sajian bir ini menjadi agak istimewa karena sahabat saya, Djenar Maesa Ayu, hampir sepanjang pesta memilih duduk di belakang counter bir, menjadi “pegawai” katering melayani tamu-tamu yang mau ngebir.

    Meskipun baru terasa agak belakangan, alhamdulillah juga para tamu di malam hari bisa merasakan keintiman dan kenyamanan yang kami inginkan. Banyak teman saya, Okto, dan kedua pengantin masih betah ngobrol, sampai menjelang jam sebelas terpaksa saya “usir” karena argometer biaya penyewaan gedung bertambah lagi setiap jam.

    Apalagi, setelah Seruni-Emir pamit bersama gank-nya buat melanjutkan “pesta” di KFC Petronas, BSD, tamu-tamu terakhir yang masih tersisa adalah teman-teman saya yang biasa berkumpul di Coffeewar: Tommy F. Awuy, Amalia Ahmad, Bagus Takwin (Aten), Shanty dan Kerlap (istri dan anak Aten), Ajie Alatas, Richard Oh, Djenar Maesa Ayu, ditambah Enin Supriyanto dan Bernice.

    “Bah, orang-orang ini mah kalau dibiarin bisa betah diskusi sampai jam 4 pagi kayak di Coffeewar,” kata saya bercanda pada Enin.

    Setelah Club House agak kosong — tersisa petugas katering dan crew Tornado/Coffewar yang sedang berbenah — saya dan Okto pulang berjalan kaki. Sampai rumah baru terasa, mungkin karena terlalu tegang dan sibuk mengurusi orang lain, kami lupa mengurus diri sendiri. Okto sejak sarapan pagi belum makan sama sekali, sementara saya sempat makan sedikit di acara siang. Sejujurnya, waktu itu rasanya biasa-biasa saja, padahal semua orang memuji makanannya enak sekali.

    Kami lantas mencari makan di Pasar Modern BSD. Selewat tengah malam tinggal satu warung yang buka. Perasaan kok makan malam itu terasa enak ya. Tiba-tiba saya seperti mendapat pencerahan: kalau suasana hati sedang enak, otomatis makanan jadi terasa enak.

    Ah, kalau begitu, kenapa saya dan Okto mesti terlampau serius dan ribet memikirkan soal makanan di acara pernikahan barusan. Yang penting bikin saja tamu-tamu ikut merasa gembira, makanan apapun bakal terasa nikmat. Tapi karena sudah terlanjur, apa boleh buat. Toh kami tidak punya kesempatan lain buat mengoreksi kebodohan itu, karena cuma punya anak semata wayang.

Latest checkin

@Perumahan Alam Sutera (Alam Sutera)
22 hours ago in Serpong, Banten

Badges

Checkin history

Friends